Berita Desa

Kepemimpinan, Faktor Kunci Transformasi Desa di Indonesia

DESA punya posisi yang vital terhadap pertumbuhan ekonomi. Terlebih, dengan arah pembangunan nasiona saat ini yang menginginkan kemajuan dari hulu ke hilir. Desa, sama seperti kota, juga perlu melakukan transformasi digital agar ekonomi semakin baik ke depan dan bisa berkontribusi maksimal dalam pembangunan ekonomi negara Indonesia. Dengan demikian, desa juga perlu digitalisasi. Akan tetapi, yang perlu digarisbawahi adalah bahwa transformasi digital tidak lepas dari peran, inovasi dan inisiatif dari pemimpin. Pemimpin punya peran besar dalam menavigasi perubahan dengan visi, aksi, dan strateginya. Ini tidak bicara dalam konteks pemimpin pemerintahan pusat, tetapi kita bicara perangkat desa, anak muda, dan lain sebagainya. Pemimpin harus menggerakkan semua sumber daya desa yang dimiliki.

 

Talenta lokal dalam transformasi digital

Bicara soal talenta lokal, sebelumnya kita harus melihat terlebih dahulu kebutuhan Indonesia akan SDM digital. Indonesia setidaknya membutuhkan 9 juta talenta digital. Ini juga dijustifikasi oleh analisis dari Kemkominfo. Dikutip dari Republika, Ditjen Aptika Kemkominfo, Bonifasius W. Pudjianto, mengatakan, “Ini yang paling penting, yang mengendalikannya SDM atau human capital. Kita juga melakukan analisis terhadap kebutuhan, ternyata dibutuhkan 9 juta talenta digital selama 15 tahun.”

 

Perangkat desa penggerak transformasi digital

Peran perangkat desa menjadi sangat penting dalam menggerakkan desa menjadi desa digital. Tentu, perangkat desa ini harus dibekali dengan kemampuan digital, baik soft skill maupun hard skill. Oleh karena itu, pemerintah telah menyiapkan anggaran sebesar 30,1 triliun untuk mempercepat transformasi digital di Indonesia. Salah satu aspek dari pembiayaan ini adalah percepatan pembangunan SDM. Menurut Lanuk (2021), perangkat desa merupakan instansi dinamis yang siap menghadapi perubahan mendadak seperti perubahan aturan perizinan maupun menghadapi kebutuhan yang akan datang yang dibuktikan dengan selalu diadakannya evaluasi kinerja dan keterbukaan menerima ide-ide baru guna meningkatkan kinerja instansi. Dari definisi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa perangkat desa pada prinsipnya siap untuk mengalami perubahan, mengalami transformasi dalam internalnya guna meningkatkan kinerja. Digitalisasi menjadi salah satu aspek perubahan yang pastinya akan memengaruhi bagaimana mereka akan bekerja nantinya, khususnya di bidang administrasi dan pelayanan publik. Terlebih, peran perangkat desa tidak bisa dipandang sebelah mata. Apabila perangkat desa tidak siap menghadapi perubahan, maka akan memengaruhi bagaimana pelayanan publik di dalam desa. Ada satu contoh menarik meskipun bukan dalam skop desa, melainkan kabupaten, yang bisa kita maknai dalam konteks transformasi digital. Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu daerah yang terbilang sukses melakukan transformasi digital. Proses mereka dimulai pada 2010 dan mengupayakan transformasi digital di segi administrasi, pelayanan publik, dan juga penyusunan anggaran. Transformasi yang mereka lakukan memiliki dampak yang baik. Mereka telah meraih beberapa penghargaan atas kinerja pelayanan publiknya. Semua transformasi digital ini tidak bisa dilakukan jika tidak ada sinergi antara perangkat desa dan pemimpinnya. Pada awal pelaksanaan transformasi digital, menurut riset Yuwono, Alfirdaus dan Manar (2020), Bupati Abdullah Azwar Anas meminta 20 sarjana akuntansi dengan IPK 3,5 dan 10 lulusan TI dengan IPK yang sama. Ini memang standar yang tinggi bagi desa, tetapi hal itu berbuah baik ke depannya. Pada 2019, tercatat bahwa kabupaten Banyuwangi memiliki 13 orang teknisi aplikasi, 12 tenaga infrastruktur jaringan, dan 2 orang desain grafis. Selain itu, pemerintah kabupaten Banyuwangi juga didukung oleh tenaga non-ASN dan juga 1.000 relawan pasukan media sosial yang bertujuan memberikan input tentang pesan berantai yang baik yang bisa disampaikan di media sosial. Dari sini, sekilas kita melihat bagaimana peran pemimpin dalam menavigasi perubahan. Tetapi, jika ditelisik lebih dalam, perangkat desa penting untuk mengeksekusi visi dari pemimpin. Posisi yang diisi oleh SDM yang ahli dan memiliki kemampuan yang relevan, membuat Banyuwangi mampu melakukan transformasi digital dengan baik. Dengan soft skills dan hard skills yang mumpuni, perangkat desa dapat mempercepat kemajuan sebuah desa.

Melihat jumlah ini, tentu menjadi tantangan yang harus dihadapi negara dalam mengembangkan talenta lokal. Berdasarkan Digital Competitiveness Index 2020, kemampuan digital Indonesia berada di peringkat 56 dari 63. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan jika ingin mencapai angka 9 juta itu. Terlebih, Indonesia dituntut kondisi pasar yang saat ini permintaan tenaga kerja digital tinggi. Indonesia tentu memiliki beberapa cara untuk meningkatkan jumlah talenta digital. Misalnya, Kemkominfo telah mengeluarkan Digital Talent Scholarship yang bertujuan mencetak individu dengan kemampuan digital yang baik melalui pelatihan selama tiga bulan. Selain itu, ada juga program desa digital yang juga dikembangkan Kemkominfo pada 2019 yang bertujuan memeratakan akses internet ke desa-desa, khususnya yang tertinggal. Namun, program-program tersebut baru dirasakan dampaknya ketika telah berjalan beberapa tahun. Akan tetapi, Indonesia punya potensi demografi yang bisa dimaksimalkan. Berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan BPS tahun 2020, Indonesia memiliki generasi digital native yang masif. BPS menemukan bahwa generasi milenial berjumlah 69,90 juta. Sedangkan generasi Z berjumlah 75,49 juta. Apabila dijumlahkan, generasi digital native ini berjumlah 145,39 juta. Angka ini menjadi potensi yang sangat besar untuk dimaksimalkan. Terlebih, kedua generasi ini telah terbiasa menggunakan teknologi. Selain itu, Indonesia juga akna mengalami bonus demografi yang kiranya akan membuat Indonesia dipenuhi talenta muda berbakat dan luar biasa. Momentum bonus demografi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, terutama jika menginginkan desa sebagai tulang punggung ekonomi bangsa. Indonesia perlu memanfaatkan semua sumber daya yang ada, baik itu lokal, regional, maupun nasional.

Pemimpin yang menggerakkan desa

Jika bicara tentang transformasi, tidak akan bisa dilepaskan dari peran kepemimpinan. Kepemimpinan menjadi suatu syarat absolut bagi entitas, organisasi, perusahaan, dan lembaga pemerintah untuk melakukan perubahan. Suatu transformasi selalu diawali dari proses kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang baik selalu menunjukkan keteladanan yang baik pula. Bicara bagaimana seorang pemimpin menggerakkan potensi daerah, sosok Azwar Anas memang tidak bisa dilepaskan dari diskusi pemimpin yang sukses mentransformasi daerahnya menjadi daerah digital. Sempat disinggung di paragraf sebelumnya bahwa kepemimpinan Azwar berkontribusi terhadap perubahan wajah daerah Banyuwangi yang menjadi daerah maju, yang mampu memaksimalkan potensi daerahnya untuk kemajuan ekonomi. Namun, selain Azwar Anas, ada sosok muda yang telah memimpin suatu desa di daerah Indonesia. Dia adalah Wahyudi Anggoro Hadi, seorang lurah dari desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta pada periode 2012-2018. Ia memberikan keteladanan yang bisa dikatakan luar biasa. Wahyudi mencoba mengubah cara kerja perangkat desa yang lambat menjadi lebih disiplin dan cepat. Dia menerapkan itu pada dirinya sendiri. Dia berangkat lebih pagi dan pulang lebih sore. Selain itu, dia juga tidak segan-segan turun tangan membersihkan WC. Wahyudi menjalankan prinsip bahwa air, pangan dan udara adalah tiga komoditas utama dalam pembangunan desa sebagai masa depan dunia. Desa yang ideal adalah desa dengan air yang bersih, kualitas udara yang bersih dan pangan sehat. Menurutnya, tiga hal ini yang akan menentukan perkembangan masa depan desa-desa di Indonesia Melalui Covid 19, Wahyudi berpendapat bahwa masyarakat harus reconnected with nature, kembali membangun relasi dengan Tuhan, sesama manusia dan juga alam. Pandemi mengubah Kembali struktur tatanan sosial saat ini. Oleh karenanya perlahan Indonesia akan pulih. Ketika semua perangkat desa bahu membahu merangkai dan mengeksekusi gagasan, semua itu berangkat dari desa. Kita memaknai kembali gotong royong sebagai pemantik hadirnya kerjasama, kekeluargaan, dan musyarawarah antara elemen desa. Hal yang dilakukannya ini perlahan-lahan mengubah wajah perangkat desa yang awalnya bekerja santai menjadi lebih disiplin. Dia juga melakukan perubahan lainnya yang membuat pelayanan di desa Panggungharjo menjadi lebih baik dari sebelumnya. Selain itu, anak muda juga turut berkecimpung melakukan perubahan di daerah. Riset saya tentang kepemimpinan menemukan banyak pemuda yang melakukan sesuatu untuk daerahnya. Misalnya, Panji Azis Pratama mendirikan Isbanban Foundation di Banten, Reza Zaki yang mendirikan Rumah Imperium dengan tujuan meningkatkan kapasitas pemuda di daerahnya, Sumedang. Selain itu, juga,ada Goris Mustaqim yang turut mengembangkan kampung halamannya, Garut. Ketiga sosok ini telah menunjukkan determinasi tinggi dan keinginan untuk membangun daerahnya sendiri. Mereka memegang teguh filosofi teori bubur panas, membangun negeri dari pinggir. Bahkan, telah ada sosok pemuda yang telah menjadi kepala desa, seperti Adidaya Perdana yang adalah seorang milenial. Adidaya terpilih menjadi Kepala Desa Margoyoso, Kecamatan Salaman, Magelang. Terpilihnya milenial seperti Adidaya membangkitkan optimisme bahwa kelak semakin banyak anak muda yang peduli membangun desa mereka. Modal ini dapat membuat Indonesia bisa menjadi negara besar. Pelajaran dari sosok-sosok di atas adalah penting untuk memiliki mindset perubahan. Pola pikir inovatif, adaptif, disiplin, determinasi tinggi, visioner, dan jiwa wirausaha merupakan beberapa kunci untuk melakukan transformasi. Molly Walsh dalam artikelnya The Seven Characteristics of Great Leaders mengatakan bahwa ada tujuh karakter yang dimiliki oleh pemimpin hebat. Karakter tersebut antara lain pembelajar, bisa mengartikulasikan visinya dengan baik, mengelilingi dirinya dengan orang yang berkompeten di bidangnya, fokus pada hasil, tidak mengkompromikan prinsipnya, dapat menunjukkan kerentanan, dan terakhir adalah menginginkan orang lain sukses. Karakter seperti itu yang saya kira bisa menjadi penggerak desa.

Tantangan dan optimisme pemberdayaan desa

Memberdayakan dan mentransformasi desa menjadi sebuah daerah digital tentu memiliki beberapa kendala. Kendala pertama tentu kapabilitas setiap daerah itu sendiri. East Ventures menerbitkan sebuah riset mengenai Digital Competitiveness Index (DCI) 2021 yang menggambarkan tingkat kompetitif digital setiap daerah di Indonesia. Riset itu menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan digital di setiap daerah terutama wilayah Timur. Contoh, DKI Jakarta DCI-nya berada pada angka 77,6. Jawa Barat menempati peringkat kedua dengan indeks 57,1. Lalu, semakin ke bawah, tidak ada yang menyentuh angka 50. Indeks itu memperlihatkan dengan jelas ketimpangan tersebut. Artinya, tidak semua memiliki infrastruktur jaringan yang memadai. Contoh lainnya, Indonesia saat ini sedang membangun jaringan 5G dan akan diterapkan di wilayah percontohan. Wilayah percontohan 5G itu antara lain Jabodetabek, (Widya Chandra, Pantai Indah Kapuk, Kelapa Gading, Pondok Indah, Alam Sutera, dan Bumi Serpong Damai) Balikpapan, Medan, Bandung, Surabaya, Denpasar, Batam, dan Makassar. Melihat daerah percontohan ini, tentu kita boleh berasumsi bahwa infrastruktur di daerah lain belum begitu matang karena masih terpusat di kota-kota besar. Persoalan kedua adalah masalah sumber daya manusia. Ini merupakan komponen penting dalam transformasi digital. Tetapi, memang, tidak semua daerah memiliki kompetensi SDM yang sama rata. Misalnya, penelitian Mangindaan dan Manossoh (2018) yang mengamati bagaimana kapabilitas SDM di desa di Kecamatan Tabukan Utara dalam mengelola dana desa menemukan bahwa SDM disana belum mampu mengelola dana itu. Mayoritas berpendidikan rendah. Kedua hal ini tentu menjadi tantangan terbesar negara kita dalam memacu transformasi digital di seluruh desa di Indonesia. Namun, bukan berarti tak ada peluang untuk meningkatkan kapasitas SDM kita. Pemerintah dan aktor lainnya sedang berusaha meningkatkan talenta-talenta digital. Di saat yang bersamaan pula, beberapa anak muda juga kembali ke desa untuk mengembangkan kapasitas sumber daya disana.

Optimisme Indonesia melalui desa digital

Meski banyak tantangan dan hambatan, optimisme perlu dijaga. Melihat potensi-potensi anak muda di Indonesia dan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah soal desa, tentu kita bisa menaruh harapan terhadap perkembangan desa. Desa digital menjadi suatu keharusan bila Indonesia ingin menjadi salah satu negara dengan tingkat pendapatan terbesar di dunia. Saat ini, banyak program yang telah dibuat untuk mengakselerasi pertumbuhan desa digital dan meningkatkan perekonomian desa, baik itu dari pemerintah, organisasi, maupun perusahaan. Hal ini harus disambut dengan optimisme bahwa semakin banyak yang menaruh perhatian khusus terhadap pertumbuhan desa digital. Terlebih, semakin banyak anak muda yang memiliki keinginan kuat membangun daerahnya. Filosofi membangun Indonesia dari dinggiran perlahan masuk ke dalam jiwa anak muda. Oleh karena itu, melihat usaha semua elemen bangsa, kita harus optimistis bahwa Indonesia bisa menjadi negara besar dengan desa-desa digital tersebar di seluruh wilayah di Indonesia. Di atas itu semua, kepemimpinan menjadi kunci sukses atau tidaknya transformasi digital. Tanpa kepemimpinan yang baik, sulit untuk mewujudkan mimpi desa digital ini. Akan tetapi, kita perlu berbesar hati bahwa telah ada pemimpin inovatif, visioner, dan memiliki determinasi membangun desa dan memajukan bangsa Indonesia. Ini saya kira modal terbesar yang membuat kita optimistis desa di Indonesia terdigitalisasi.

https://www.kompas.com/tren/read/2021/08/22/201610865/kepemimpinan-faktor-kunci-transformasi-desa-di-indonesia?page=all

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button